August 8

Korelasi antara Self-Portrait dan Burnout

0  comments

Di suatu siang, beberapa hari yang lalu. Saya berkesempatan duduk cukup lama di kantor salah satu multinational company di Jakarta. Saya masuk ke dalam area kerja mereka – sekitar 25 karyawan duduk di mejanya masing-masing, wajah mereka serius di depan laptop. Di ruangan itu hanya terdengar suara ketak ketuk keyboard laptop dari masing-masing orang. Tidak ada suara musik, mungkin karena semua sibuk mendengar musik kesukaannya sendiri-sendiri. Hampir 80% dari mereka memasang headset di telinganya. Padahal di pagi hari saat mereka mulai datang, keseruan mereka sama: Macettttt – hari Senin, sudah mulai hari sekolah, luapan kendaraan di luar perkiraan mereka. Banyak jam meeting yang akhirnya mundur karena mereka terlambat datang.

Saya menyapu pandangan saya lagi – memotret dalam benak saya. Memperhatikan ekspresi satu-persatu dari mereka. Ternyata observasi pertama saya keliru – tidak semuanya serius di balik mejanya. Secara kasat mata memang mereka diam dan tenang. Namun saat saya “memotret” lebih dalam, saya mendapat banyak foto ekspresi – wajah yang berseri-seri dan tersenyum simpul, dahi yang menyengit, tatapan tajam di layar, namun juga ada pandangan kosong, energi yang lemah, dan ada beberapa orang menggigit bibir sambil pandangannya tidak lepas dari layar. 

Unconscious Burnout

Saya teringat dengan setting lokasi lain sekitar 2 minggu dari observasi saya ini. Saya ada di pulau kecil – yang kalau Anda cari di peta hanya setitik saja. Saat itu saya duduk bersama beberapa bapak ibu guru di sebuah sekolah – juga ada beberapa siswa di sekitar kami. Saat itu saya juga memotret ekspresi beberapa orang yang saya jumpai disana. Teringat jelas buat saya – ekspresi wajah yang sumringah, cerah, senyum lebar hingga nampak gigi. Kadangkala ada yang berulang kali menatap langit (mungkin khawatir hujan akan turun). 

Dari hasil observasi dan memotret ini, otomatis saya makin membandingkan kedua kondisi ini. Sama-sama bekerja tapi mana yang lebih tinggi stress levelnya ya? 

Bisa jadi berbagai tekanan yang kita alami sehari – hari: target, konflik, menjalani multi peran, berkutat dengan keterbatasan waktu dan macetnya jalanan adalah sumber pemicu burnout yang tidak kita sadari. Karena kita mengalami tekanan ini setiap harinya, level toleransi kita terhadap tekanan bisa saja bertambah – sekali lagi, tanpa kita sadari. Dampaknya dari kondisi ini, tiba-tiba saja didapati seseorang memiliki tekanan darah tinggi, asam lambung meningkat dan berbagai masalah kesehatan lainnya. 

Self Portrait

Berbicara mengenai ketidaksadaran, apa yang terjadi jika manusia memiliki kesadaran yang lebih dalam pada dirinya sendiri?

Barangkali yang saya sebut sebagai unconscious burnout ini tidak terjadi. Saya percaya, jika orang mampu menjadi lebih sadar akan kondisi dirinya – tidak hanya kondisi fisik di permukaan, namun justru kondisi emosinya yang lebih mendalam, caranya bersikap dan mengambil keputusan akan berbeda. 

Mengeksplorasi foto adalah salah satu hal yang melatih saya untuk mengobservasi apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri saya yang tidak saya sadari. Judy Weiser, psikolog dan fototerapis – mengatakan bahwa foto merupakan jejak pikiran kita, cermin kehidupan dan refleksi atas diri kita. Coba Anda ambil salah satu foto secara random dalam ponsel Anda. Ingat, ini bukan mengenai seni atau teknik memotretnya, melainkan tentang bagaimana cerita dan hal yang tersirat secara visual (yang biasanya tidak disadari) tertanam dalam foto. 

Apa yang Anda lihat dalam foto tersebut?
Ekspresi apa yang ditampilkan di foto tersebut?
Apakah foto ini mengingatkan Anda pada kejadian tertentu?

Lebih spesifik lagi, apa emosi yang tercermin dari foto diri Anda tersebut? 

Apakah Anda menyukai senyum Anda di foto tersebut?
Apa yang sedang Anda pandang? 

Apa pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh mata di foto tersebut?

Apa yang telah terucapkan? Atau apa yang belum terucapkan?

Seandainya Anda akan mengunggah foto di media sosial Anda, apakah foto ini adalah foto pilihan Anda?

Apa kira-kira yang dipikirkan orang yang melihat foto Anda tersebut?

Mengobservasi foto adalah latihan pengalaman inderawi untuk mengobservasi berbagai peristiwa dalam hidup kita. Jika makin hari kita makin cakap melakukannya, Anda akan memiliki pengetahuan seutuhnya pada diri Anda sendiri. Kesadaran atas realitas diri inilah yang saya yakini dapat membantu setiap orang untuk mengambil keputusan – keputusan penting dalam hidupnya. 

Sama halnya kasus burnout yang tidak disadari seperti yang saya gambarkan diatas, tentunya bisa dibantu dengan latihan-latihan macam ini. Saya sering menggunakan metode fototerapi ini untuk melatih karyawan-karyawan di perusahaan. Mereka diajak untuk berlatih lebih peka mengobservasi dirinya sendiri, terutama sisi emosinya. Kesadaran yang didapat dari observasi ini akan membantu yang bersangkutan mengenali perubahan-perubahan yang terjadi ketika ia mengalami tingkat stress yang berlebihan. 

Fototerapi pada prakteknya juga digunakan tidak hanya untuk meningkatkan kesadaran, namun juga sebagai media terapi. Misalnya saja saya meminta seseorang untuk mengambil potret dirinya di saat dia burn out dan di saat dia dalam kondisi prima. Kita bisa menggunakan foto-foto ini untuk membentuk realitas baru dalam diri yang bersangkutan. Saya mengkombinasikannya dengan metode coaching dan psikoterapi. Pertanyaan-pertanyaan powerful yang disusun dalam struktur yang tajam akan membantu seseorang untuk menggali dirinya lebih mendalam. 

Dalam buku The Coaching Journey yang ditulis oleh Amelia Hirawan (2021) – juga tertulis bahwa foto membantu menghadirkan proses transformasi pada diri seseorang. Dalam proses coaching secara verbal, coachee bisa menjawab di permukaan karena keterbatasan ingatan ataupun bahasa. Namun foto menjadi media yang sangat mudah terkoneksi dengan emosi, sehingga coachee bisa mengeksplorasi dirinya secara lebih dalam. 

Menarik bukan? 

Maka dari itu, saya ingin mengajak Anda untuk belajar bersama mengenai peran foto ini dalam sebuah proses bersama, di Master Talk “The Self Portrait: A Medium of Inner Research, Self-Projection and Self-Identity” bersama Dew Teerapap. Registrasikan diri Anda DISINI untuk mendapatkan seatnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You may also like

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

Get in touch

Name*
Email*
Message
0 of 350