August 18

Coach, Apa Kebahagiaan Utama Anda?

4  comments

Pada salah satu postingan video yang mampir di beranda akun Tik Tok saya, membuat saya sungguh terharu. Dimana saat ganda putri Indonesia berhasil memperoleh medali emasnya mengalahkan ganda putri dari Cina dan tak lama setelah saling mensyukuri kemenangannya, Apriyani datang ke pelatihnya dan memeluknya.

Apriyani tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada sang pelatih sambil menangis tersedu. Saya bisa membayangkan saat saya ada di posisinya, memang tak bisa berkata-kata apalagi selain terima kasih dan menangis. Ungkapan yang terkesan sederhana ini justru memiliki makna yang paling dalam. Namun, Eng Hian layaknya seorang pelatih, seorang coach, membisikkan kepada Apriyani betapa bangganya dia dan juga mengatakan bahwa “ini baru permulaan..”.

Coach Eng Hian

Eng Hian sebagai pelatih, mengingatkan saya pada peran sebagai seorang coach. Tentunya dia mampu melihat kemampuan dari Greysia dan Apriyani hingga membawanya sebagai juara dunia ganda putri di Olimpiade Tokyo 2020 ini. Namun, lebih dari sekedar melihat kemampuan anak didiknya, ia juga mampu mendampingi, mendorong dan memberdayakan mereka.

Kemenangan yang diperoleh tentunya bukan hanya semata-mata karena keahlian bintang Indonesia ini saja, namun merupakan hasil dari proses yang dijalaninya selama ini, yang pastinya proses ini tidak terlepas dari seorang coach itu sendiri.

Mengamati Eng Hian sebagai pelatih bulutangkis dan para professional coach olahraga secara umum, saya selalu tertarik bagaimana mereka membangun relasi bersama tim atau coachee-nya. Beberapa film yang popular dan rasanya hampir menjadi tontonan wajib di dunia coaching adalah, Coach Miracle atau Facing The Giants. Satu hal yang kita tahu pasti, seorang coach tidak pernah terjun ke ‘arena pertandingan’. Saat kita terjun ke ‘arena pertandingan’, maka nampaknya kita perlu berhati-hati karena mungkin peran coach ini telah bergeser dengan sendirinya.

Facing The Giants

Coach selalu berada di pinggir lapangan, mengamati pertandingan, dan pada saat-saat istirahat atau jeda, ia kembali memberdayakan, membagikan sudut pandang dari luar arena – sehingga dapat memberikan saran perbaikan untuk coachee-nya. Dan saat coacheenya selesai di ‘arena pertandingan’ tersebut, apapun hasilnya, kembali lagi ia memberdayakan.

Pada beberapa pertandingan olahraga yang saya lihat dari layar kaca, hampir tidak pernah saya melihat coach akan marah pada coachee nya terkait dengan hasil dari pertandingan tersebut. Justru saat pertandingan usai, baik hasilnya sesuai ekspektasinya atau tidak, ia akan datang dan merangkul Coacheenya.

Baca juga : Hindari 6 Kesalahan & Mitos dalam Coaching. Apa bedanya dengan Mentoring?

Hal ini menjadi suatu pertanyaan yang reflektif bagi saya pribadi, apakah saya mau merangkul coachee, apapun kondisi mereka?

Saya tahu proses untuk menjadi seorang coach seringkali juga tidak mudah. Mungkin Anda yang juga menjadikan coaching sebagai profesi Anda saat ini, Anda perlu melengkapi diri Anda dengan banyak pelatihan, sertifikasi, dengan mengikuti banyak akademi, tentunya ada biaya juga yang harus Anda investasikan. Padahal, melalui ilustrasi di atas, sebenarnya tugas coach menjadi cukup berat.

Menomorsatukan dan memberdayakan coachee terutama menjadi hal yang tidak mudah. Apalagi saat kita sudah menguasai satu bidang tertentu. Keinginan untuk ‘mengambil arena pertandingan’, menasehati coachee yang seringkali menjadi kendala otomatis saat di lapangan. Belum lagi saat kita dihadapkan pada coachee yang tidak sepaham dan senilai dengan prinsip hidup kita sendiri, ‘merangkul coachee’ juga menjadi tugas yang sangat berat. Dan apalagi, kita tentunya masih seorang manusia juga.

Dengan hal yang sulit ini, seringkali tidak sebanding dengan hasil yang seorang kita peroleh. Entah Anda seorang professional coach, life coach, relationship coach, dll, rasanya memiliki isu yang serupa. Pasti Anda juga pernah mengalami ditinggal coachee di tengan proses coaching; tiba-tiba coachee enggan meneruskan program coaching dengan Anda lagi; coachee tidak melakukan komitmen yang ia buat bersama Anda; Anda merasa sangat berat untuk membawa transformasi pada coachee.

Begitu bervariatif! Meski tentu Anda juga pernah merasakan coachee yang ternyata memiliki performa yang gemilang..! Dan kadang sebagai coach, kita perlu dengan terbuka dan rendah hati mengakui bahwa hasil mereka lebih baik dari hasil saya sebagai seorang coach.

Jujur, ini adalah hal tersulit sebagai seorang coach. Mengakui posisi kita bukanlah apa-apa. Karena memang benar, tanpa coachee yang mau bekerjasama, kita bukanlah apa-apa. Bahkan seringkali keegoisan sebagai manusia, menginginkan pengakuan bahkan hasil yang lebih dari apa yang diperoleh coachee.

Kembali pada pertandingan bergengsi Olimpiade Tokyo 2020 kali ini, sangat menggambarkan kondisi coach. Banyak berita tentang pasangan ganda putri ini, namun berapa banyak berita yang dirilis tentang Eng Hian, jauh lebih sedikit bukan? Atau saat Anda membaca betapa melimpahnya hadiah yang diperoleh pasangan ini, berapa yang diperoleh Eng Hian? Jauh lebih sedikit dari bayangan saya tentunya!

“Generousity” kartu pada The Coaching Game inilah yang mengingatkan saya pada posisi sebagai seorang coach seperti gambaran di atas. Ibu yang memberi air, tidak terlihat “wah” dan memiliki segalanya. Ia memberi dengan cara yang sederhana pada seseorang yang membutuhkannya.

Ditulis dalam artikel The Leader as Coach di Harvard Business Review Magazine edisi November-Desember 2019 oleh Herminia Ibarra dan Anne Scoular, “You’re not good as you think”. Tanpa mengecilkan peran seorang coach di mata coachee, namun pada kenyataannya seringkali seorang coach merasa bahwa ia lebih baik dari coacheenya, karena pengalaman yang ia miliki bahkan pelatihan yang telah ia ikuti.

Namun dari artikel tersebut juga ditunjukkan bahwa banyak coach yang akhirnya terjebak pada memberitahu bukan memberdayakan. Kembali pada pernyataan Eng Hian pada paragraf di awal, “ini baru permulaan…” menunjukkan karakter dari coach itu sendiri sebagai orang yang memberdayakan, tidak menghentikan coachee pada satu titik yang membuatnya puas belaka.

Tampaknya, memang saya sebagai seorang coach perlu benar-benar meletakkan diri pada kondisi “nol” atau netral. Sangat benar apa yang dikatakan oleh salah seorang founder Points of You, Efrat Shani, No Expectation No Judgement inilah yang menjadi salah satu kunci kebahagiaan seorang coach.

Bukan hasil yang dapat diperoleh coachee, karena bisa jadi hasil ini adalah suatu permulaan pada titik transformasi yang lebih besar lagi. Bukan pada kecanggihan kita membawa coachee memenangkan pertandingan. Namun kebahagiaan untuk tetap melihat coachee sebagai manusia netral yang mampu berkembang tanpa perlu dinilai baik buruknya.

Dan ini, pertanyaan yang menggelitik saya saat menulis artikel ini, yang saya ambil dari Punctum, “apa yang membuatku sempurna?” (sebagai seorang coach).

Pelajari juga : Sukses Coaching dengan 101 Pertanyaan Kunci

By: Marcelina Suganda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

  1. Sebuah tulisan inspiratif👍 kebahagian yg sulit digambarkan ketika seorang coach menyaksikan hasil ketulusannya pada anak2 muridnya👍👍👍👍luar biasa 👍👍👍

    1. Thank you Bu Erni… betul banget, rasanya haru dan bangga membaur menjadi satu. Apakah Ibu juga pernah merasakan yang sama? Kapan itu?

  2. Banyak coach tidak terkenal. Yang terkenal adalah coachees nya.
    Sejatinya mereka memang berada dibelakang layar. Lain dg coaches nya para pemain bola internasional karena disorot oleh publisitas media mereka jadi terkenal.
    Sama seperti Tahir Djide, coach nya Rudy Hartono, yang memenangkan 7X berturut All England dan ke-8 nya bbrp tahun kemudian. Alm. Tahir Djide setia mengcoach bbrp pemain bulutangkis namun paling lama dan menjadi hebat ya Rudy Hartono yg sudah tercatat keberhasilannya di World’s Guiness Record dan belum ada yg memecahkan rekor tsb. Naahh balik lagi sejatinya kita para coaches ya tugasnya mulia dan tulus. Mau berprinsip 100/0 ya adalah keputusan si coach yg penting we’ve done our best and the rest is up to you…

    1. Indeed Bu Juni …. sharing yang sangat indah sekali. Apresiasi setinggi-tingginya untuk sosok-sosok Coach dibalik keberhasilan para bintang.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You may also like

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

Get in touch

Name*
Email*
Message
0 of 350