August 13

Hindari 6 Kesalahan & Mitos dalam Coaching. Apa bedanya dengan Mentoring?

0  comments

Proses coaching saat ini memang menjadi trend yang cukup diminati banyak orang karena menjadi salah satu metode untuk membantu memaksimalkan dan mengembangkan potensi personal maupun profesional.

Namun sayangnya, di lapangan atau dalam pelaksanaannya tidak semua Coach memahami dan memiliki kemampuan coaching dengan baik. Maka, saat coaching dilakukan, seolah-olah tidak berjalan dengan baik atau tidak sesuai dengan ekspektasi Coachee yang tidak membuahkan hasil yang baik. Hal ini terjadi karena, setiap orang yang bertanggung jawab sebagai Coach, ternyata tidak melakukan perannya dengan baik.

Coaching

Siapa Coach?

Siapapun bisa menjadi Coach. Karena Coach adalah orang yang melakukan proses coaching. Bisa untuk diri sendiri, maupun orang lain. Artinya, Coach adalah peran yang memfasilitasi proses coaching. Ia yang bertanggung jawab terhadap dinamika proses coaching melalui berbagai metode agar sesi coaching berjalan sesuai dengan tujuan atau goals-nya.

Saat peran Coach secara profesional menjadi sebuah profesi, mereka umumnya telah mempelajari secara khusus keterampilan coaching itu melalui program-program sertifikasi coaching atau sertifikasi coaching tools.

Siapa Coachee?

Coachee adalah klien yang difasilitasi oleh Coach. Dimana Coachee adalah seseorang yang ingin dibantu untuk mendapatkan sudut pandang baru dalam menghadapi permasalahannya atau dalam mencapai tujuannya. Bisa jadi itu mengenai persoalan hidup, persoalan bisnis, persoalan finansial, persoalan relasi, dan sebagainya

Setelah memahami siapa Coach dan Coachee dalam proses coaching, sekarang Anda perlu tahu kesalahan apa saja yang sering terjadi dalam coaching. Karena dengan melakukan kesalahan tersebut proses coaching Anda malah tidak akan efektif!

Hindari 6 Kesalahan & Mitos dalam Coaching Ini!

Dari pengalaman kami mendampingi Coach saat proses coaching, ternyata ada beberapa sudut pandang yang salah dan berbeda mengenai coaching ini. Ada 6 hal pemikiran yang kurang tepat yang sangat sering terjadi.

#1. Coaching Membantu Seseorang Mengelola Kelemahannya

Coaching

Proses coaching sebenarnya proses yang memberdayakan. Dalam proses coaching, yang terpenting Coachee bisa mendapatkan insight, sudut pandang baru, atau solusi atas permasalahannya dari sumber daya yang mereka miliki.

Proses coaching tidak membantu seseorang mengelola kelemahannya. Proses ini justru membantu seseorang mengelola dirinya untuk mengeluarkan potensi terbaiknya. Dalam coaching, sumber daya dari Coachee adalah yang paling penting. Sudut pandangnya adalah bahwa Coachee sebenarnya mampu mengatasi masalahnya dengan sumber daya yang ia miliki.

Maka, yang perlu dilakukan Coach adalah membantu Coachee untuk dapat mengeluarkan potensi terbaiknya tersebut dengan metode coaching yang tepat atau membantunya menggali dengan pertanyaan-pertanyaan coaching yang telah di rancang.

#2. Kelemahan Mendasar Seseorang akan HILANG setelah Proses Coaching

Mitos Coaching

Bukan proses coaching yang membuat kelemahan mereka menjadi hilang. Proses coaching hanya membantu mereka untuk menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Maka, kelemahan mereka sebenarnya akan tetap ada, bahkan setelah proses coaching itu selesai.

Namun proses coaching yang TEPAT harus mampu membuat Coachee bergerak dan bertindak sesuai dengan pilihan yang ia komitmenkan dalam proses coaching. Aksi atau langkah nyata inilah yang membuat mereka bertumbuh dan berkembang, bukan menghilangkan kelemahan mereka.

Satu hal yang perlu diperhatikan Coach saat proses coaching ini selesai adalah, Coachee memiliki tindakan nyata yang dapat dilakukannya dalam waktu dekat untuk mendukung proses perubahannya.

#3. Coaching dapat Menyelesaikan Masalah Pribadi yang Keras Kepala dan Malas

coach yang kewalahan

Hal yang perlu dipahami adalah proses coaching bukan hanya untuk seseorang yang memiliki masalah. Apalagi permasalahan mereka seputar keras kepala dan malas. Namun, proses coaching ini adalah bagi semua lapisan personal yang mau terus bertumbuh dan berkembang.

Maka, proses coaching yang sebenarnya tidak mengarahkan Coachee dengan nasehat atau memberikan jawaban atas masalahnya. Namun mengajak Coachee memandang masalahnya dari sudut pandang yang berbeda, melihat pembelajaran positif dari masalah yang ada.

Baca juga : 3 Faktor Penghalang Coaching

Lebih dari itu, sebenarnya proses coaching yang baik harus dapat membuat Coachee bergerak. Dengan melakukan pergerakan inilah, maka akan ada sebuah peningkatan aktivitas yang diharapkan dan mampu menyelesaikan isu atau masalah yang terjadi.

#4. Coach yang DOMINAN, Merusak Hubungan dengan Coachee

Coach yang dominan

Hati-hati Coach! Perlu diingat bahwa proses Coaching berbeda dengan Mentoring. Sebab proses mentoring dan coaching memiliki esensi yang berbeda. Proses mentoring memang mengarahkan, memberikan petunjuk, dan membuatkan proses simulasi, sehingga seorang mampu memahami sudut pandang masalah dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh Mentor.

Sedangkan proses coaching adalah pemberdayaan. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa proses ini justru membantu Coachee melihat masalah dari sudut pandang yang lain dari berbagai sudut yang tidak pernah terpikirkan olehnya. 

#5. Coaching yang Efektif dapat Menyelesaikan Seluruh Masalah

Keberhasilan coaching

Proses coaching yang baik adalah FOKUS pada satu topik atau satu tujuan. Artinya dengan berfokus pada satu fokus tersebut, Coachee akan benar-benar dapat melakukan sebuah langkah yang konkret atau nyata untuk bergerak baik keluar dari masalahnya maupun mencapai tujuannya.

Dengan satu fokus, tentu saja akan sangat sulit merubah seluruh aspek kehidupan Coachee Anda seketika. Apalagi jika sesi coaching hanya dilakukan satu atau dua kali. Untuk itu proses coaching perlu dilakukan secara rutin dan berkala.

#6. Seorang yang BAIK Selalu Berhasil Saat Coaching

Saat melakukan proses coaching bersama dengan Coachee yang dikenalnya, terkadang Coach sering terpengaruh persepsi pribadi terhadap Coachee. Contohnya saat menghadapi Coachee yang sering bermasalah, Coach sudah malas duluan. Ia berpikir kalau Coachee ini sulit, keras kepala dan sulit berubah. Akhirnya Coach jadi tidak netral lagi.

Sebaliknya, saat ada Coachee memiliki riwayat yang baik, Coach jadi lebih bersemangat dan berasumsi bahwa ia akan berhasil dalam proses coaching. Padahal, belum tentu seperti itu.

Keberhasilan sesi coaching yang utama justru adalah ketepatan langkah-langkah dalam proses coaching itu sendiri. (Pelajari juga : 7 Langkah Praktis Melakukan Coaching yang Efektif). Siapapun Coachee Anda, seseorang yang baik atau yang bermasalah, apabila proses coaching tidak dilakukan dengan tepat, maka keberhasilan coaching juga dipertanyakan.

Jadi, bukan subyek Coachee semata-mata yang menentukan keberhasilan sebuah proses coaching. Namun, bagaimana seorang Coach dapat melakukan langkah demi langkah serta menerapkan prinsip coaching dengan benar, itulah yang membantu proses keberhasilan sebuah coaching.

“Coaching is Unlocking a Person’s Potential to Maximize Their Growth.”

John Whitmore

Itulah keenam mitos dalam coaching yang sering salah kaprah. Semoga Anda jadi bisa memfasilitasi sesi coaching dengan lebih efektif. Jika Anda mau EXTRA TIPS : 3 Strategi Melakukan Coaching yang Efektif, Anda bisa mendapatkannya secara FREE dengan KLIK DISINI.

Namun jika Anda merencanakan untuk mendalami coaching dengan mengambil sertifikasi coaching tools untuk kebutuhan profesi Anda, Anda bisa dapatkan informasi selengkapnya dari Tim Points of You Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You may also like

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) YANG MENGANCAM PROFESI COACH, TRAINER, MENTOR DAN KONSULTAN

Get in touch

Name*
Email*
Message
0 of 350