The Art of Developing Inner Power and Making Idea Become Reality

The Art of Developing Inner Power and Making Idea Become Reality

(GRAMINAR EDISI 19 JUNI 2017 – KAMPOENG BISNIS)

Hai, sedikit cerita ya…

Kenalkan nama saya, Amelia Hirawan, S. Psi, The First Points of You Trainer in Indonesia and Human Capital ARTchitecht Coach.

Latar belakang saya, kuliah di Psikologi. Awal karir saya sebenarnya adalah pekerja sosial untuk anak-anak jalanan. Kebetulan saya ada di divisi pendidikan dan kesehatan. Terkait dengan aktivitas saya ini, ternyata tidak mudah berkomunikasi dengana anak jalanan. Kita nanya baik-baik, belum tentu mereka jawab baik-baik. Kita yang “normal” ini adalah sosok asing bagi anak-anak yang ada di jalanan. Maka berkomunikasi dengan mereka ini harus benar-benar relasi yang terjalin sangat bagus. Kalau tidak, jawabannya bisa dibolak-balik.

Singkat cerita, saya berusaha menemukan satu metode untuk berkomunikasi dengan mereka – untuk bisa mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Di akhir masa kuliah, skripsi yang saya buat terkait dengan anak jalan menggunakan Thematic Apperception Test (TAT) dan tes grafis (menggambar).

Ini adalah awal ketertarikan saya pada media visual.

Kalau sekian belas tahun yang lalu masih menggunakan gambar, media visual sekarang ini berkembang pada foto, photo therapy istilahnya. Nah, saya ingin mengenalkan apa itu photo therapy dan mengembangkannya. Paling tidak yang belum kenal metode ini jadi kenal dan makin penasaran ya, hehe…

Kenyataannya, tidak hanya di dunia anak jalanan. Saat saya masuk ke dunia industri sebagai HRD, ternyata namanya manusia dimana-mana sama. Komunikasi selalu menjadi tantangan semua pihak. Atasan, bawahan, kolega, bahkan lebih dalam lagi, komunikasi dengan diri sendiri juga.

Pengalaman saya belakangan ini mendampingi beberapa perusahaan untuk mengembangkan sistem human capital-nya; baik perusahaan kecil, menengah maupun yang sudah besar. Nah ternyata semua masalah berbuntut pada soal komunikasi dan bagaimana membuat perencanaan jadi kenyataan.

Nah, pengalaman saya mengunakan media visual/foto ini, saya dapat mengungkap hal-hal yang tidak disadari oleh yang bersangkutan. Nah dalam psikologi, proses ini disebut sebagai Teknik Proyektif. Mungkin teman-teman kenal salah satunya adalah tes Rorschach, tes bercak tinta, atau saat teman-teman ikut psikotes kalau masuk ke perusahaan, diminta menggambar pohon, orang, lalu rumah.

Tes proyektif sendiri sebenarnya merupakan bentuk protes pada aliran psikologi yang memandang manusia hanya bersifat struktur, melihat dari perilakunya – bukan melihat manusia sebagai suatu kesatuan namun tetap sekumpulan dari berbagai aspek.

Teknik proyektif menggali aspek psikologis manusia yang tidak disadari dan sulit diungkap dalam kondisi wajar (sukar diungkap melalui self report inventory). Jadi dalam pendekatan proyektif diperlukan instrument khusus yang dapat mengungkap aspek-aspek ketidaksadaran manusia. Teknik proyektif inilah yang memungkinkan subyek mau merespon.

Nah, barangkali Anda yang membaca ini, juga teman-teman yang jadi coach atau konselor, atau pernah dicurhatin orang. Kadang tidak mudah bagi kita untuk menggali masalah sebenarnya atau kecenderungan orang yang datang pada kita adalah suka berpanjang-panjang cerita masalahnya. Belum lagi ia menangis dan kita sebagai coach malah terjerumus mendengerkan konten masalahnya.

Itu artinya kita perlu suatu tools/ alat untuk menggali masalah sesungguhnya apa sih. Ini hanya “surface problem” atau akar masalahnya yang sesungguhnya.

Misalnya seseorang mengatakan masalah dia adalah bosnya yang galak. Bisa jadi ini hanya “surface problem”, bisa jadi dan kemungkinan besar, bukan itu masalahnya.

Carl Jung, “kakek guru” di psikologi, mengatakan “perception is projection”. Artinya, sebenarnya apa yang kita katakan, apa yang kita sampaikan sesungguhnya adalah apa yang ada di dalam diri kita. “What’s inside is what’s outside, what’s outside is what’s inside”.

Mudahnya, seseorang bisa mengatakan bahwa orang lain itu MARAH karena ia pernah mengalami MARAH itu sendiri. Jika ia tidak pernah marah, bagaimana dia bisa mengatakan seseorang itu marah?

Konsep ini penting dipahami saat kita membantu orang lain melihat masalahnya. Banyak orang melihat masalah itu di luar dirinya, padahal yang terjadi masalahnya sendiri.

Kembali ke photo therapy…

Ada beberapa alasan mengapa kepribadian seseorang sulit diungkap atau ditanyakan secara langsung:

  • Tidak semua orang dapat mengkomunikasikan dengan jelas ide-ide dan sikap-sikap yang ada dalam kesadarannya
  • Umumnya lebih mudah menghindari mengatakan hal-hal yang menyakitkan atau membuat tidak nyaman walaupun tidak dengan maksud menyembunyikannya atau menipu
  • Banyak hal yang tidak disadari oleh seseorang, yang tentu saja ia tidak mampu untuk mengemukakannya

Nah mencari ALAT YANG TEPAT adalah tantangan saya. Akhirnya saya temukan MEDIA VISUAL ini sebagai salah satu alat yang efektif.

Kenapa foto? siapa suka foto, selfie, motret, alias bikin PICTures? Seperti sebelum makan, pas jalan-jalan, atau juga pas lagi bengong.

Bayangin aja, sebuah obyek, kalau saya panggil 1000 fotografer, dapat menghasilkan berapa foto yang berbeda? 1000 fotografer menghasilkan 1000 foto yang berbeda pula. Walau mirip, pasti tidak akan ada yang sama persis, bisa jadi geser walau hanya 0,5 milimeter. Bisa jadi juga dari sudut yang sama persis, namun ketika foto diambil pada waktu yang berbeda, shadow dan pencahayaannya bisa beda juga. Setiap fotografer memiliki sudut pandang sendiri, mereka memiliki Point of Interest masing-masing.

Demikian ketika orang menghadapi satu obyek atau isu. Ada yang melihatnya sebagai masalah, ada yang melihatnya sebagai peluang. Mentor saya bilang “masalah itu bukan masalah kalau tidak dipermasalahkan”

Maka tugas metode photo therapy adalah:

  • Menggali dari sudut pandang mana orang melihat sesuatu itu sebagai masalah dan bagaimana kita sebagai coach melihatnya juga
  • Memberikan stimulasi pada yang bersangkutan untuk melihat dari sisi yang berbeda

Mari kita coba melihat satu foto ya….

Apa pendapat Anda mengenai foto ini? Bagaimanakah kesan Anda? Apa yang melintas di pikirkan Anda mengenai foto ini?

“Seseorang yang lagi berfikir sambil pegang kantong celana, karena saya selalu melihat seseorang pegang kantong celana saat berpikir”

“Menurut saya orang yang lagi kesulitan keuangan, biasanya saya lihat klo orang lagi gak ada uang sering-sering pegang kantongnya”

“Orang yang nda mau melihatkan mukanya maka yg difoto cuma bagian bawahnya saja, karena saya juga sangat jarang sekali selfie”

Ini baru satu foto, kita lihat bagaimana beragamnya setiap orang dalam melihat sebuah obyek. Seperti yang di ungkapkan dua responden, berdasar pengalaman dia, selalu melihat seseorang pegang kantong celana saat berpikir atau melihat seseorang yang kesulitan keuangan pegang kantong celana, Mari kita tanyakan dalam diri kita – Apa Yang Membuat Kita Bisa Berpikir Demikian?

Inilah cara kita melihat satu foto. Ini bukti bahwa sudut pandang kita – POINTS OF VIEW – POINTS OF YOU – kita berbeda demikian juga saat melihat suatu obyek atau masalah. Sadarkah juga bahwa sudut pandang kita adalah REFLEKSI dari diri kita? Seperti pengalaman responden ketiga, Ia melihat seseorang di foto itu tidak mau memperlihatkan mukanya, ternyata karena ia sendiri jarang sekali selfie.

Yuk, kita coba foto kedua ini….

“Gambar ayunan ini, Bu Amel pernah kasih liat secara tidak sengaja sewaktu kumpul bersama teman beberapa minggu lalu. Saya diam-diam menyelipkan kartu itu ke bawah kartu lain. Awalnya merasa merinding, “deg-deg”an, tangan juga pada dingin. Ujungnya ketahuan juga sama Bu Amel, lalu dibantu dengan coaching yang menurut saya cuma tanya jawab biasa, tapi setelah itu lebih berani melihat gambar itu.”

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang lihat foto kedua ini, tiba-tiba ia menutup kartunya. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat melihat foto tersebut. Foto bisa membangkitkan memori, bahkan ingatan yang kita tidak sadari namun sesungguhnya masih menjadi masalah dalam hidup ini.

Foto ini bisa membangkitkan satu perasaan tertentu. ini yang saya bilang antara surface problem vs root problem. Maka fungsi foto disini bisa membantu orang untuk mengenali masalah yang dialaminya – juga bisa untuk membangkitkan imaginasi – sesuatu yang belum terjadi namun menjadi harapan.

Kejadian sesaat sebelum foto itu dibuat biasanya mengkoneksikan pada pengalaman masa lalu – kejadian sesaat setelah foto ini terjadi biasanya dapat mengoneksikan pada masa yang akan datang. Kalau dirangkum, kurang lebih seperti ini: PAUSE – EXPAND – FOCUS – DOING

Nah itu tadi sedikit merasakan kalau lihat foto ya. Coba saya simpulkan mengenai photo therapy ini

  • FOTO atau gambar yang digunakan disini sebenarnya mirip dengan peran gambar yang digunakan dalam tes proyektif. Bentuk yang ambigu diyakini mampu menjadi STIMULUS yang membangkitkan berbagai macam asosiasi (asosiasi bebas)
  • Asosiasi atau persepsi yang dihasilkan oleh seseorang adalah hasil kumpulan dari ingatan, proses belajar, budaya, kebiasaan dan pendidikan yang dialami sejak kecil.
  • Di sisi lain, asosiasi ini dapat menjadi stimulus dalam membangkitkan IMAJINASI, SUDUT PANDANG, IDE yang belum pernah terpikir sebelumnya, jadi terpikirkan
  • Foto adalah sepotong dari rangkaian kegiatan yang dipotret. Sehingga dapat menjadi stimulus bagi coachee untuk mengasosiasikan dengan kejadian sesaat sebelum foto tersebut dibuat dan kejadian sesaat setelah foto tersebut dibuat
  • ASOSIASI bebas inilah yang membawa EFEK TERAPEUTIK terhadap isu yang sedang dibahas

Saya yakin teman-teman semua yang membaca artikel ini adalah orang-orang yang memiliki peran penting dalam komunikasi dalam sebuah organisasi. Gambar bisa membantu Anda untuk menjadi sarana berkomunikasi. Inilah pentingnya alat dalam proses coaching :

  • Perlu keterampilan dan pengalaman dalam memberikan training dan coaching
  • Mempercepat proses membangun relasi dengan coachee
  • ARTmazing Coaching Tools membantu proses pemberdayaan coachee (empowering) karena mendapat INSIGHT secara langsung dari alat yang digunakan.
  • Menciptakan kondisi coaching yang NYAMAN karena memindahkan emosi coachee terhadap permasalahan yang dihadapi, pada alat yang digunakan.
  • Mengakomodir pola komunikasi “Net Generation” yang sekarang lebih banyak menggunakan bahasa visual dibandingkan bahasa verbal dalam komunikasi. ang

Nah teman-teman itu kira-kira pengenalan metode ini. foto-foto yang sederhana, yang mungkin kita setiap hari foto-foto begitu saja, ternyata bisa menjadi stimulus yang bermakna.

Buat saya, selalu belajar dan mencari sesuatu yang baru adalah hal yang baik. Saat kita berhenti bergerak dan sudah puas dengan pengetahuan yang kita punya, sesungguhnya hidup kita juga berhenti.

Saat ini, foto adalah sesuatu yang menginspirasi saya. Saya banyak berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Dengan melihat sesuatu yang baru, membuat saya selalu bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar. jadi ayo jalan-jalan sambil motret hahaha….

GRAMINAR EDISI 19 JUNI 2017 – KAMPOENG BISNIS

TANYA JAWAB dengan Amelia Hirawan

“Sampaikan terima kasih ke bu Amelia. Saya jadi tersadarkan bahwa ada masalah yang saya hindari selama ini saat melihat foto yg diberikan itu. Padahal yg diberikan cuma foto gitu tapi menyadarkan saya tentang sesuatu…. Keren deh…“

Responden A

“Bagaimana cara kerjanya foto menjadi media therapy?”

Seperti pengalaman responden di atas, saat masalah terkuak oleh satu stimulus, kita bisa memberikan foto lain untuk mengajak yang bersangkutan melihat masalah dari sisi yang berbeda.

Responden B

“Bu Amelia .. kasus apa yg paling berkesan yg pernah ditangani dengan teknik photo therapy ini ??”

Therapy disini jangan diartikan hanya therapy klinis namun sebenarnya tujuan utamanya adalah foto bisa menjadi stimulus untuk kita memiliki sudut pandang yang berbeda. Kasus paling berkesan sewaktu saya gunakan FACES.

Ini adalah foto-foto wajah, semuanya monokrom. Pada saat si Bapak yang jadi coachee saya membuka kartu ini, dia bilang benci banget sama wajah yang kiri bawah – yang diatas tulisan wounded. Dia bilang itu neneknya dan dia bilang benci banget sama wajah itu padahal itu foto cowok. Saya tidak memaksa dia menyampaikan apa yang dia pikirkan dan rasakan atas foto itu. Dia tidak mau cerita.

Akhirnya kami beralih ke kedua kartu diatasnya drama queen dan gentle. 8-10 menit sharing apa yang dia persepsikan pada kedua kartu itu, dia akhirnya berani bilang apa yang dia rasakan atas foto pertama tadi.

Ini berkesan buat saya karena prosesnya demikian cepat ia mendapatkan insight atas masalahnya.

Selain one on one coaching, saya juga sangat terkesan saat menggunakan foto-foto ini di sebuah alignment camp selama 2 hari semalam untuk membuat vision board.

Responden 3

“Bagaimana dengan kata-kata yang ada dalam foto? Apakah itu lebih mengarahkan bahwa foto tersebut adalah bentuk dari kata-kata tersebut?”

Kata-kata ini bertujuan membuat koneksi antara gambar dengan foto. Ini sesungguhnya kinerja otak kiri kanan.

Kombinasi penggunaan “kata” dan “gambar” dalam alat ini mampu mengakomodir sisi logis (otak kiri) dan sisi kreatif (otak kanan) manusia. Sehingga ARTmazing coaching Tools ini menjadi alat yang efektif karena mengajak seseorang melihat satu permasalahan tidak hanya dari strukturnya, namun juga mempertimbangkan nilai-nilai dan memunculkan kreativitas dalam mengambil keputusan.

“The integration of the picture with the word addresses both the left and right lobes of the brain. This simultaneous stimulus creates an extraordinary phenomenon: All at once our rational reaction and our intuitive reaction are activated, blending together to create an association.”
Waltraud Kirschke (1999) Secrets of the Peeling

Responden 4

“Apakah klo kita sendiri menganalisa diri sendiri melalui photo cukup obyektif? Apakah tidak dipengaruhi hidden agenda dari diri sendiri?”

Photo therapy ini metode besarnya, namun banyak sekali sub metode yang kita bisa kembangkan. Kita bisa menggunakannya sebagai self coaching maupun bersama orang lain bahkan dalam grup besar.

ini menarik soal hidden agenda. Pada saat kita melatih diri kita menggunakan macam-macam gambar sebenarnya kita sedang melatih diri kita ini untuk jujur pada diri sendiri. justru mungkin saat kita ini perlu menyampaikan pada orang lain, kita akan berusaha “menormalisasinya”. Namun saat kita terus mengasah self talk ini maka diri kita juga terlatih memberi tahu diri sendiri.